
Setelah melakukan kegiatan rutin tahunan sekre yaitu pendidikan dasar Astacala warga sekre biasanya melakukan refreshing, berlibur meninggalkan carut marutnya kehidupan kota untuk menyatu dengan alam, merasakan ketenangan, mengagungi kebesaran-NYA, dan bersyukur kepada-NYA. Saat itu 2 Februari 2012 saya dan tujuh orang lainnya memutuskan pergi ke Teluk Kiluan.
Perjalanan ke Teluk Kiluan memakan waktu sekitar 3-4 jam dari rumah saya di Bandarlampung (saya lupa berapa jam karena sempat berhenti untuk tambal ban, istirahat sholat dan makan di perjalanan) tidak seperti perjalanan di pulau Jawa yang penuh dengan pemukiman. Perjalanan ke Teluk Kiluan kebanyakan dihiasi sawah, pemandangan pesisir serta bukit-bukit.

salah satu pemandangan selama perjalanan ke Teluk Kiluan
Lalu lintas pun cukup lengang sepi dan tenang sekali, bahkan angkutan umumpun sulit kami jumpai. Perjalanan cukup melelahkan karena memang medan jalan yang dilalui cukup ‘sexy’.

salah satu hamparan sawah yang menyejukkan mata. :)
Saya masih ingat sekali saat itu pukul 13.45 kami sampai di gerbang Teluk Kiluan. Dari gerbang ini menuju bibir pantai kami tempuh selama lebih kurang 20 menit. Saya dan teman-teman sangat senang dan bersemangat saat sampai di gerbang Teluk Kiluan ini.

Gerbang Teluk Kiluan. Terdapat perkampungan Bali, Sunda dan Lampung didalamnya. Sekalian berasa ke Bali. :)
Terbayarlah semua letih selama perjalanan, saya tidak bisa menuliskan perasaan dan menggambarkan keindahan ini melalui kata-kata. Terlebih lagi semua ini belum banyak terjamah manusia, masih sepi seperti pulau pribadi. Nelayan sekitar masih tradisional. Kami juga sempat minum kelapa yang langsung dipetik dari pohonnya. Nikmat sekali liburan kali ini.


menyebrang dengan jukung (baca: perahu/kapal (bahasa Lampung)). Kami sempat bingung, bagaimana perahu sekecil itu bisa sekali jalan untuk kami berdelapan dan semua barang-barang. “gelombang agak tenang, jadi saya berani” begitu penjelasan kapten kapal.
foto kedua: saat sampai dipulau pulau Kiluan


foto pertama: Pulau Kiluan
foto kedua: pemandangan dari pulau Kiluan
Pemandangan Kiluan, sayang gak ada kamera yang bisa di air jadi gak bisa fotoin ikan dan terumbu karang yang cuma bisa diliat klo snorkling. Oia bisa liat lumba-lumba saat pagi dengan menumpang perahu ke arah tengah laut. Dokumentasi di video. 




terlihat kamp kami disebelah kiri diantara pepohonan
Senja di pulan Kiluan:


Kalaupun ada yang berminat kesini lagi saya bersedia mengantarkan. Sungguh indah dan tidak akan bosan rasanya kesana.
Aku sangat bersemangat !
Menggebu-gebu untuk bergerak.
Menatap jauh kedepan.
Meneggakkan kepala keatas.
Menantang langit dengan sombongnya.
Tapi itu kemarin…
Aku tak hilang arah.
Selalu tahu bagaimana kehidupan.
Mengerti dimana tujuan.
Paham akan langkah selanjutnya.
Tapi itu kemarin…
Aku tegar dan kuat.
Tidak mudah patah semangat.
Tidak bisa diombang-ambing.
Tidak asal ikut angin.
Tidak asal-asalan.
Tapi itu kemarin…
Aku tegak berdiri.
Membusungkan dada tanda berani
tapi tetap rendah hati.
Melangkah dengan pasti.
Tahan godaan kanan kiri.
Tapi itu kemarin…
Itu Kemarin…
Kemarin…
Kemarin…
Kemarin…
Tapi hari ini juga bakal jadi kemarin…
Tapi besok juga bakal jadi kemarin…
Tapi besok juga bisa jadi kemarin…
ABS 17/4/2012 - 00.31
Eksistensi, aset organisasi, dan sarana tegur sapa lintas generasi. ASTACALA !!
i hope will be like that soon “Engineers are never worried for what is the answer, just ask which answer do you want”
Beberapa tahun belakangan ini saya memang jauh dari rumah, jauh dari keluarga karena harus belajar di sini sehingga 3 kali Ramadhan ini menjalankan puasa sendiri. Tapi Ramadhan kali ini saya benar-benar merasakan rindu dengan suasana puasa di rumah, tidak pernah rasanya sampai serindu ini. Mama. Papa, Dyah meskipun hanya keluarga kecil tapi keluarga saya sungguh penuh kehangatan meski kadang kami saling malu-malu untuk menunjukkannya.
Saya rindu bulan Ramadhan di rumah
Motivasi untuk mahasiswa kalo lagi down / males belajar (buat ujian)
dari frosthater